Itu yang saya baca dari status Facebook Mr Desneldi tadi pagi. Saya jadi ingin menyimpan kalimat itu. Sebelumnya saya pernah membaca kalimat itu entah di mana, sempat terkesan, tapi hanya begitu saja. Tapi kali ini saya ijin ke Mr. D untuk mencuplik status tersebut dan mencoba menelaah alasan saya mencupliknya.
Secara sederhana, kalimat ini lebih punya toleransi dibanding kalimat "tidak akan menjilat air ludah sendiri". Aduh, kok kesannya tidak higienis sekali ya, bisa juga diartikan mau menjilat air ludah orang lain ...walah....
Saya menangkap ada peringatan halus di situ, sebelum sempat membanting pintu diingatkan dulu, pikir-pikir sebelum membanting, kalau ternyata nanti ingin kembali, apakah masih bisa melewati pintu tersebut? Pertanyaan lanjutannya, apakah langkah "kembali" akan diterima dengan ikhlas (Forgiven and forgotten)?
Implementasi sederhana dari kalimat ini, pikir-pikir dulu sebelum melakukan atau mengucapkan sesuatu.
Saya juga jadi ingat sebuah kalimat motivasi tentang bagaimana mengoreksi tindakan atau ucapan yang keliru : "Selalu ada jalan untuk kembali".
Ya, selalu ada jalan untuk kembali, namun jika Anda pergi dengan menyakiti, Anda harus menimbang beribu kali untuk kembali.
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi pagi. Tampilkan semua postingan
26 April 2010
HIDUPLAH HARI INI
Yesterday is History
Tomorrow is Mystery
TODAY is a GIFT, that's why we call it "PRESENT"
Dari Bu Kek Siansu :
Berikut adalah nukilan percakapan Sin Liong dengan Swat Hong.
"Hiduplah saat ini, curahkan seluruh perhatian, seluruh hati dan pikiran, untuk menghadapi saat ini, apa yang terjadi kepadamu di saat ini, bukan apa yang boleh terjadi di masa depan, bukan pula mengenang apa yang telah terjadi di masa lalu"
"Kalau begitu kita menjadi tidak acuh dan bersikap masa bodoh.."
"Justru biasanya kita bersikap masa bodoh dan tidak acuh, tidak menaruh perhatian yang mendalam terhadap saat ini, karena seluruh perhatian kita sudah dihabiskan untuk mengingat-ingat masa lalu dan untuk membayang-bayangkan masa depan dengan seluruh pengharapannya, seluruh cita-citanya, seluruh nafsu keinginannya dan seluruh kesenangan dan kekecewaannya. Justru kalau bebas dari masa lalu tidak ada lagi bayangan masa depan dan kita hidup saat demi saat penuh perhatian, dan ini barulah dinamakan hidup sepenuhnya, hidup sempurna dan lengkap karena kita menghayati hidup dengan penuh kewajaran, tidak terbuai dalam alam kenangan dan harapan yang muluk-muluk namun sesungguhnya kosong belaka"
(dicuplik dari email seorang teman : Dhinta Darmantoro)
Langganan:
Postingan (Atom)